Pemeriksaan IVA dan Papsmear Gratis dalam Rangka HBA ke 57 dan HUT Ikatan Adhyaksa Darmakarini ke 17

IKATAN ADHYAKSA DHARMAKARINI MENGGANDENG YAYASAN KANKER INDONESIA (YKI) PROVINSI KEPULAUAN RIAU DAN DINKES DALAM RANGKA HARI BHAKTI ADHYAKSA DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU.

Dalam rangka peringatan Hari Bakti Adhyaksa ke-57  dan HUT Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) ke-17,  Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepulauan Riau bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Provinsi Kepulauan Riau bersama jajarannya melaksanakan bakti sosial deteksi dini kanker leher rahim dan kanker payudara gratis untuk masyarakat.

Kegiatan ini merupakan kerjasama dan didukung oleh lintas sektor antara lain Dinas Kesehatan, IBI dan lintas sektor terkait lainnya telah melaksanakan pemeriksaan IVA gratis pada 1254 orang wanita usia 30-50 tahun di 6 kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau yaitu di Kota Tanjungpinang sebanyak 104 orang, dilaksanakan di RSUP RAD Tanjungpinang. Peserta dari kabupaten Bintan 151 orang, Kota Batam sebanyak 227 orang, Kabupaten Lingga sebanyak 120 orang, Kab. Kepulauan Anambas sebanyak 30 orang, dan Kabupaten Karimun dengan peserta terbanyak yaitu sebanyak 622 orang. Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan 17 orang dengan lesipra kanker. Sebagai tindak lanjut dini pada pasien dengan lesipra kanker dapat dilakukan cryoterapy. Pelayanan Cryoterapi tersedia di Provinsi Kepulauan Riau terdapat  di RSUD Raja Ahmad Thabib di Tanjungpinang, RSUD Karimun, Puskesmas SeiPanas dan Puskesmas SeiLangkai Kota Batam .

Kanker leher rahim masih merupakan masalah kesehatan perempuan di Indonesia sehubungan dengan angka kejadian dan angka kematiannya yang tinggi.  Penyakit ini banyak terdapat pada wanita di negara -negara berkembang di Asia, termasuk Indonesia. Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker leher rahim dan kanker payudara. Berdasarkan estimasi Globocan, International Agency for Research of Cancer (IARC) tahun 2012 insidens kanker di indonesia 134 per 100.000 penduduk dengan insidens tertinggi pada perempuan adalah kanker payudara sebesar 40 per 100.000 penduduk diikuti dengan kanker leher rahim 17 per 100.000 penduduk.

Menurut data Riskesdas tahun 2013 prevalensi kanker serviks di Provinsi Kepulauan Riau sebesar  1,5 per 1000 wanita. Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional yaitu 8 per 1000. Di Negara maju prevalensi menempati urutan keempat setelah kanker payudara, kolorektum, dan endometrium.   Sedangkan di negara-negara sedang berkembang menempati urutan pertama. Di negara maju insidens dan angka kematian kanker serviks menurun selama beberapa dekade terakhir.Hal ini karena deteksi dini kanker leher rahim menjadi lebih populer dan lesipra kanker lebih sering dideteksi dari pada kanker invasif.

Di Indonesia diperkirakan ditemukan 40 ribu kasus baru kanker leher rahim setiap tahunnya.Menurut data kanker berbasis patologi di 13 pusat laboratorium patologi, kanker leher rahim merupakan penyakit kanker yang memiliki jumlah penderita terbanyak di Indonesia, yaitu lebih kurang 36%. Terbanyak pasien datang pada stadium lanjut, yaitu stadium IIB-IVB.Apabila dideteksi pada stadium awal, kanker leher rahim merupakan kanker yang paling berhasil diterapi, dengan 5 YSR (5-years survival rate) atau Angka Harapan Hidup sampai dengan 5 tahun sebesar 92% untuk kanker lokal. Keterlambatan diagnosis pada stadium lanjut, keadaan umum yang lemah, status sosial ekonomi yang rendah,  keterbatasan sumber daya, keterbatasan sarana dan prasarana, jenis histopatologi,  dan derajat pendidikan ikut serta dalam menentukan prognosis dari penderita.

Di Indonesia berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2013, prevalensi tumor/kanker di indonesia adalah 1,4 per 1000 penduduk sedangkan prevalensi kanker leher rahim sebesar 0,8 per 1000 penduduk.  Di Provinsi Kepulauan Riau prevanlesi kanker sebesar 1,6 per seribu penduduk dan prevalensi kanker leher rahim 1,5 perseribu penduduk, angka ini lebih tinggi dibanding angka nasional.

Meskipun kanker merupakan penyakit yang tidak diketahui penyebabnya secara pasti namun dipengaruhi oleh banyak faktor seperti paparan asap rokok, mengkonsumsi alkohol, obesitas, dan diet tidak sehat serta infeksi yang berhubungan dengan kanker.

Faktor risiko untuk kanker leher rahim yaitu infeksi Human Papiloma Virus (HPV),menikah muda (usia <20 tahun), sering berganti pasangan dan merokok. Kanker leher rahim diperkirakan sebagai penyakit yang ditularkan secara seksual.Wanita dengan partner seksual yang banyak dan wanita yang memulai hubungan seksual pada usia muda akan meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Partner dari pria dengan kanker penis atau partner dari pria yang istrinya meninggal terkena kanker leher rahim juga akan meningkatkan risiko kanker leher rahim.  Para ahli memperkirakan bahwa 40% kanker dapat dicegah dengan mengurangi faktor risiko terjadinya kanker tersebut.

Hampir seluruh kanker leher rahim disebabkan oleh infeksi Human Papiloma Virus (HPV). Dan hampir 100% infeksi HPV ditularkan melalui hubungan seksual.Satu dari 10 orang perempuan yang terinfeksi HPV akan mengalami lesi prakanker pada jaringan epitel leher rahim, jika lesi tidak diketahui atau tidak diobati dalam waktu 3 – 17 tahun akan berkembang menjadi kanker leher rahim.

Upaya pencegahan kanker yang utama adalah mencegah dan menghindarkan masyarakat terpapar dari faktor risiko kanker, vaksinasi HPV untuk kanker leher rahim diikuti dengan penyelenggaraan pelayanan deteksi dini atau penapisan. Deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim dapat dilakukan dengan mudah dan murah yaitu  pemeriksaan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) dan SADANIS (pemeriksaan payudara klinis) untuk deteksi dini kanker payudara dan pemeriksaan IVA untuk deteksi dini kanker leher rahim.

Salah satu metode deteksi dini kanker leher rahim adalah pemeriksaan metode IVA (Inspeksi Visual dengan Asam asetat). Pemeriksaan IVA dapat dilakukan difasilitas kesehatan dasar seperti puskesmas, pustu dan polindes, lebih mudah dan murah dan hasilnya dapat diketahui pada saat pemeriksaan. Pemeriksaan IVA hampir sama efektifnya dengan pemeriksaan pap smear dalam mendeteksi lesi pra kanker.

Dibandingkan dengan pemeriksaan menggunakan tes pap smear, yang membutuhkan biaya lebih mahal dan sarana prasarana laboratorium yang biasanya hanya terdapat di kota besar serta tenaga ahli khusus dan hasilnya dapat diterima beberapa minggu kemudian, sehingga ibu yang bersangkutan harus datang kembali untuk mendapatkan hasil dan dilakukan tindakan bila dibutuhkan.

Keadaan tersebut dapat menjadi masalah di daerah dengan sumber daya yang terbatas dan terpencil, dimana ibu yang telah diperiksa dan tidak segera mengetahui hasilnya kemungkinan tidak akan kembali ke klinik untuk menerima hasil pemeriksaan sehingga akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pengobatan apabila dibutuhkan.

Data terakhir yang dapat dihimpun oleh Yayasan Kanker Indonesia ProvinsiKepri, angka kejadian di ProvinsiKepri, data hasil pemeriksaan IVA (kankerleherrahim) danpapsmear (untukpayudara) padatahun 2016 adasekitar 42 orang yang terserangkankerleher Rahim dari 3.360 orang yang mengikuti pemeriksaan. Sementara untuk tahun 2017 hingga bulan Mei 2017 ada 14 orang yang mengalami kanker leher rahim dari 1.246 orang yang melakukan pemeriksaan. Sedangkan untuk hasil pemeriksaan sadanis ada sekitar 68 orang yang dicurigai tumor/kanker/benjolan dari 3.362 orang yang diperiksa.Sedangkan untuk tahun 2017 ada sekitar 9 orang yang dicurigai dari 1.0305 yang melakukan deteksi.

IMG-20170721-WA0024

author
No Response

Leave a reply "Pemeriksaan IVA dan Papsmear Gratis dalam Rangka HBA ke 57 dan HUT Ikatan Adhyaksa Darmakarini ke 17"